Kumpulan Cerpen

FILE ENDING

( cerpen ini dapat di lahat di harian singgalang, minggu tanggal 27 juli 2008 )

Hmm…., bingung juga ya memilih judul skripsi yang se suai buat ku, walaupun aku masih semester enam, tapi tujuan mendatang harus di perhatikan juga lho.

Aku mendengus sendirian di dalam perpustakaan. Aku sendirian. Tidak ada orang lain yang ikut membaca. Begitupun dengan pegawai pustaka. Ia istirahat buat makan siang. Untung tadinya aku sempat meminjam beberapa skripsi sebelum ia beranjak pergi.

Ku baca judul-judul yang tertera di skripsi tersebut. Pengolahan Data Bank dengan MY SQL. Pengolahan Data perhotelan dengan Data base Access. Pengolahan Data perkantoran dengan pemrograman Visual Basic. Pembuatan Web menggunakan Dreamweaver dengan design Photoshop dan animation Swish.

Ku letakkan skripsi-skripsi tersebut di atas meja pustaka, tanpa membacanya lebih lanjut. Aku merasa bosan, karena judul-judul skirpsi tersebut sangat standar dan biasa. Ku lihat jam yang tergantung di dinding pustaka. Sudah jam dua siang. Saatnya masuk kuliah Pengantar Robotika, dengan Mr. Alko, dosen terbang dari Australia.

****

Se usai makan siang, ku kembali melototin layar CRT Monitor Komputer, mencoba syntak-syntak yang ku karang sendiri di Visual Basic, yang anehnya setiap bahasa pemrograman yang ku buat tak tahu tujuan yang jelas. Sekarang ku pusatkan pikiran dan ku khayalkan tentang masa depan. Penuh teknologi dan teka-teki.

Akhirmya syntak-syntak yang ku buat selesai, ku coba menjalankannya. Tapi pesan compile error : sub or fungtion not defined, keluar. Ku teliti satu persatu bahasa pemrograman itu. Tidak ada yang salah. Tapi setiap ku coba untuk menjalankannya, pesan compile error : sub or fungtion not defined. Selalu muncul. Ku coba pula untuk mendeteksi kesalahannya dengan software TestTrack Pro 7.1 pesan saccesfully the compile keluar. Berarti program yang aku buat betul adanya.

Akhirnya ku Close Visual basic tanpa penyimpannya. Percuma saja penyimpan kalau program yang ku buat tidak di ketahui dimana letak salahnya. Dan setelah aku men-Turn of computer, aku berbaring di tempat tidur sampai akhirnya aku bermimpi di masa depan.

Di sana, semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi oleh komputer. Dari bangun tidur sampai kembali tidur di layani dengan setia oleh mesin yang bernama robot, yang otaknya telah di program dengan canggih oleh manusia di zaman itu.

Aku sendiri merasakan betapa senangnya hidup di masa depan. Ketika ku bangun tidur, sebuah robot telah mengangkatku ke kamar mandi, dan ada robot yang khusus untuk memandikanku, sampai ketika aku hendak tidur, ada pula robot yang menyelimutiku. Sungguh senangnya aku.

Aku tersentak. Lama ku duduk di atas kasur. Berharap ada sebuah robot yang akan membawaku ke kamar mandi. Tapi robot yang kutunggu-tunggu tidak juga muncul. Sampai akhirnya ku sadar kalau aku sekarang tidak lagi berada di masa depan. Tidak lagi di dalam mimpiku. Aku ada di massa ku.

****

“Hei, Bro!, mau kemana?” teriak Pinko, sahabatku.

“Se enaknya saja loe manggil nama gue dengan sebutan Bro. nama gue kan Pirlo, ngebantai seekor kambing lho, buat memberi nama gue ini.”

“Iya, deh. Iya. Loe mau kemana nih?”

“Mau masuk kelas.”

“Emangnya loe ngambil matakuliah Pengantar Robotika?”

Aku mengangguk, “masuk dulu ya!”

“Eh, tunggu dulu, gue punya ini….” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak.

“Apa ini?” tanyaku.

“Itu software masa depan. Gue nggak mengerti, jadi gue minta loe untuk mempelajarinya, jika loe sudah mengerti, kasih tahu gue ya!”

Sekali lagi aku mengangguk, ku masukkan kotak yang di berikan Pinko tadi ke dalam tas Elgerku. “Gue masuk kelas dulu ya?” ujarku, tanpa menoleh ke arah Pinko.

Di dalam kelas, aku tidak memperhatikan Dosen yang sedang menerangkan matakuliah, aku penasaran dengan kotak yang diberikan oleh Pinko tadi. Ku buka bungkusannya, dan ku baca tulisan yang ada di kotak tersebut. Software massa depan (Magig 1.0), edisi bahasa Indonesia. Ku buka isi dalam kotak, kutemukan sebuah kepingan CD.

****

Aku kembali pada layar Monitor, mencoba membuat syntak-syntak baru di Visual Foxpro, sama saja hasil bahasa pemrogramanku entah lari kemana-mana. Sampai akhirnya aku teringat akan software yang di berikan Pinko siang tadi di kampus.

Ku ambil kepingan CD Magic 1.0 dan ku masukkan kedalam Disk Drivenya. Sebuah kotak dialog muncul di layar computer. Welcome to Magig 1.0. untuk menginstal klik Next, untuk keluar klik End.

Ada keraguan menggelayuti puncak ubun-ubunku. Antara rasa takut dan penasaran. Apa benar ada orang Indonesia yang bisa membuat sebuah Software, mengenai masa depan pula.

Tanganku gemetaran memegang Mouse, ku arahkan pointer mouse ke kiri untuk mengklik kata Next.

Aku terkejut. Suara mama diruang makan hampir membuat jantungku copot, darahku mendidih sampai asapnya keluar dari puncak kepalaku.

Ku geser lagi pointer mouse ke kanan. Ku klik tombol yang bertuliskan End. CD nya langsung keluar dari Disk Drive. Dan aku berlari ke meja makan.

****

Se usai makan malam, ku kembali kemeja belajar, tugas Matematika Diskrit telah menantiku. Ya, aku mengambil mata kuliah Matematika Diskrit lagi. Karena sewaktu di semester tiga, aku sakit selama tiga bulan. Jadi aku harus ngambil lagi mata kuliah itu.

Empat puluh lima menit aku mengerjakannya, akhirnya tugas Matematika Diskrit selesai juga. Leherku terasa penat, otot tanganku terasa lelah, kakiku kesemutan. Ku baringkan badan di atas tempat tidur. Tak lama kemudian aku kembali kemasa depan dengan robot-robot yang selalu setia memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Aku sendiri merasakan betapa senangnya hidup di masa depan. Ketika ku bangun tidur, sebuah robot telah mengangkatku ke kamar mandi, dan ada robot yang khusus untuk memandikanku, sampai ketika aku hendak tidur, ada pula robot yang menyelimutiku. Sungguh senangnya aku.

Aku tersentak dari mimpiku. Ku pandangi jam weker yang terletak di samping komputer. Jam satu lewat dua puluh menit.

Kembali ku rebahkan badan di atas kasur. Tapi mata ini tidak lagi mau terpejam. Khayalan mengenai masa depan selalu saja menghantuiku.

Aku ke belakang. Ku buka lemari es, ku ambil sebotol air dingin, dan aku kembali masuk ke dalam kamarku.

Ku hidupkan komputer. Sambil menunggu proses booting, ku teguk air dingin, sampai menyentuh dasar lambungku. Aku merasa segar.

Kembali ku masukkan CD (Magic 1.0), kedalam Drive-nya. Kembali muncul kotak dialog Welcome to Magig 1.0. untuk menginstal klik Next, untuk keluar klik End.

Dengan hati-hati ku klik tombol Next, sebuah kotak dialog kembali muncul. Terimakasih untuk telah menginstal Magic 1.0. sekarang klik finish. Tanpa pikir lagi ku klik tombol Finish.

Agak lama juga aku menunggu kotak dialog berikutnya, dan ternyata muncul juga kotak dialog yang ku maksud. Gunakan Software ini dengan sebaik-baiknya. Untuk mencobanya klik Start. Kembali ku klik tombol yang dimaksud.

Keluarlah sebuah tampilan kerja yang tidak berbeda jauh dengan tampilan my sql. Ku coba memasukkan syntak pemrograman my sql. Keluar sebuah kotak dialog, Software ini bekerja dengan bahasa Indonesia, jadi gunakanlah logika dengan bahasa Indonesia.

Sekali lagi aku tercenung. Rupanya ada juga software yang di produksi di Indonesia. Tapi siapa?, kok nggak pernah di ekspos.

Di dalam kebingungan aku menuruti perintah sang komputer. Ku coba mengetikkan logika dengan menggunakan bahasa Indonesia, mengenai masa depan, mengenai khayalanku, mengenai robot-robot.

Ternyata program yang ku buat berhasil. Lihat saja kotak dialog yang keluar. Program anda sukses, mau menjalankannya press Enter. Dengan sangat lambat ku tekan tombol Enter yang ada di papan keyboard.

Aku terkejut, CD Drive keluar sendiri, sebuah kotak dialog kembali muncul di layar computer. Letakkan tangan anda di atas CD Drive yang telah terbuka, kemudian tekan tombol enter. Masih dengan rasa penasaran yang sangat, kuturuti juga perintahnya.

Aku tak tahu lagi dimana diriku, yang ku tahu, tadi aku meletakkan telapak tangan diatas CD Drive dan menekan tombol enter. Sekarang aku hanya terapung-apung entah dimana, yang terlihat olehku hanyalah sebuah lorong yang sangat panjang, dan selalu berputar putar.

Ku pusatkan pandangan ke depan. Dan apa itu?, sebuah kotak dialog diujung sana. Dengan samar-samar ku baca isi pesan di dalam kotak dialog tersebut. Software ini belum sempurna adanya, jika anda menggunakannya, anda tidak akan pernah kembali.

Aku tersentak, jadi aku akan selamanya berada disini. Bayangan hitam menyelimuti tubuhku. Dan aku tidak tahu lagi siapa aku. Yang ku tahu, hanya sebuah tulisan yang menari-nari di puncak ubun-ubun ku. Tulisan itu bertuliskan FILE ENDING.

PROLOG BATU PANTAI

(dapat di lihat dalam antalogi cerpen remaja sumbar (Jemari Laurin) Balai Bahasa Padang. 2007)

Para pekerja sedang membawaku. Dengan bersusah payah mereka mengangkutku di ke dua telapak tangan kasarnya, dan melemparkan ku ke atas truk. Begitupun dengan teman-teman ku, kami saling berhimpitan di dalam sana. Tak ada sesal di hati kami, walaupun kami akan di hijrahkan ke tempat yang belum pernah kami kunjungi.

Kami setiap harinya bertengger di sebuah bukit yang jarang sekali di datangi orang. Walaupun ia seorang yang berpredikat wisatawan, sebab di bukit tempat kami bertengger tidak memiliki objek wisata yang bisa di banggakan, bukit kami hanyalah se onggok tanah yang di tumbuhi lumut dan di tenggeri bebatuan seperti halnya diriku.

Aku memandangi langit biru dengan arak-arakan awan putih seputih lembaian kapas, hanya itu yang bisa ku pandangi. Aku tidak dapat melihat tempat bertengger ku dahulu, mataku telah terhalang oleh batasan-batasan papan truk di sekeliling body-nya.

Lima menit berlalu, aku tidak lagi dapat memandangi arak-arakkan awan di langit sana. Sebuah batu besar telah menindih tubuhku, di susul oleh batu-batu yang lain. Tibalah saat nya untuk meninggalkan kampung halaman ku, aku yakin tidak akan dapat melihat tempat bertenggerku lagi. Sudah tiba saatnya bagiku untuk di pergunakan oleh manusia, mungkin untuk membangun sebuah jembatan atau untuk membangun gedung-gedung yang jika dilihat dari atasnya, maka orang-orang yang berlalu lalang di bawah akan terlihat serperti iring-iringan semut yang sedang membawa makanan.

Bunyi derum mesin menandakan kalau kami akan di angkut ke sebuah tempat. Tempat di mana aku dan teman-temanku akan mendapatkan pemandangan dan suasana baru. Jalanan tepian bukit emang belum di aspal, itu membuat perut kami mual, terhuyung ke sana kemari, sampai di perempatan jalan depan, di sana kami sudah merasa nyaman, karena jalanannya adalah sebuah jalanan yang menghubungkan antar dua kota. Dan truk yang mengangkut kami telah berlari dengan tenangnya.

Cukup lama juga perjalanan kami, sampai akhirnya truk berhenti, entah di mana, karena pembatas di sekeliling tubuh mobil belum juga di buka, kami semua penasaran di mana kami nantinya akan di tempatkan.

Dua orang pekerja mulai membuka pengunci bak truk, dan kami semua di tuangkan. Kami mendarat dengan empuknya, hanya peraduan sesama kami yang menimbulkan suara, kami jatuh di pasir yang lembut. Ternyata kami hijrah ke sini, tempat dimana ada laut, ombak, pasir, burung camar dan lain sebagainya.

Aku merasa akan betah di sini sampai nantinya hancur menjadi pasir-pasir itu, perasaanku begitu ceria, tidak ada lagi pemandangan lumut yang menjijikkan, tidak ada lagi curahan air dari akar-akar pohon yang dingin, tidak ada lagi keterkekangan pandangan yang selalu terhalang oleh dahan dan ranting-ranting pohon. Tidak ada lagi kera-kera yang selalu membuang hajatnya di atas badanku. Tidak ada lagi kelengangan di hatiku, semuanya sirna setelah aku memandangi keramaian pantai ini, dan merasakan hangatnya juluran lidah air laut yang berbusa.

Kami semua di susun sedikit menjorok ke laut, mungkin sebagai pembatas agar ombak laut tidak menghantam jalanan sepanjang pantai ini atau kami akan di jadikan tempat orang-orang yang duduk menikmati indahnya matahari sore, tempat para penulis yang ingin mencari inspirasi, tempat para pelukis yang akan melukis indahnya gulungan ombak laut, atau tempatnya para pemikir yang ke habisan pikirannya.

Sore pertama yang aku rasakan di pantai ini, begitu ramai di kunjungi orang-orang, menikmati hangat dan indahnya sang perkasa siang yang akan menyelam ke dalam laut di balik pulau sana. Burung camar tidak henti-hentinya menari di sekitar cahaya kuning ke emas-emasan. Menambah asri suasana.

Dan malam pun jatuh, tapi orang-orang masih ramai berdatangan, apalagi yang masih remaja. Entah tradisi apa yang di pakai Pemuda-pemudi harus keluar se waktu hari sabtu malam. Aku hanya bisa menggerutu melihat mereka bergandengan tangan dengan mesranya. Bukan aku iri, karena aku hanya se bongkah batu yang di bawa dari sebuah bukit tempat tinggal lamaku dan di pergunakan oleh orang-orang di sini sebagai penyangga amukan ombak laut.

Tapi yang aku herankan, kok mereka bisa dengan mesranya begitu, melebihi sepasang suami istri. Pantas saja ombak-ombak laut bisa marah karena melihat tingkah laku mereka. Dan aku teringat akan kisah pilu yang di alami tanah Rencong, pada bulan Desember, empat tahun yang lalu. Ombak begitu mengamuknya. Melahap semua yang terlihat olehnya, masyarakat yang tidak berdosa pun ikut di telannya. Padahal pemicunya hanya dua insan manusia yang belum sah melakukan hal yang telah di sahkan menurut agama. Entahlah yang ku tahu hanya itu, karena aku hanya se bongkah batu yang di bawa dari sebuah bukit tempat tinggal lamaku dan di pergunakan oleh orang-orang di sini sebagai penyangga amukan ombak laut. Aku tidak pernah mendengar radio, menonton tv, ataupun membaca Koran.

Malam sudah cukup larut tapi sepasang remaja masih asik duduk di tubuhku. Janji-janji muluk yang di utarakan Pemuda itu membuatku ingin muntah, dan meludahkannya tepat ke mukanya.

Aku tidak lagi mendengarkan percakapan dan melihat tingkah yang mereka kerjakan. Yang ku lakukan hanya berdo’a kepada yang maha kuasa agar dua anak manusia ini di beri se cercah cahaya barang sedikit agar mereka sadar dengan kalakuan yang mereka perbuat, dan satu lagi do’a yang ku panjatkan agar mereka secepatnya meninggalkan pantatnya dari tubuhku dan pulang.

Mereka mulai berdiri, saling meluruskan kaki, mungkin terasa kram. Dan mulai berjalan menjauhi ku. aku pun lega. Ternyata tuhan mengabulkan do’a yang ku panjatkan. Moga-moga saja mereka langsung pulang dan mengistirahatkan badannya. Tidak keluyuran lagi.

Malam semakin dingin, cahaya bintang begitu indah berkedip saling bergantian. Burung hantu telah memainkan lagu sendu dari balik lembaian nyiur kelapa. Kelelawar beterbangan mengelilingi garis pantai, ombak sudah mulai mengecil, dan aku pun mulai mengistirahatkan badanku.

****

Pagi-pagi sekali aku telah bangun, udara yang terhembus dari laut sunguh sangat segar, para nelayan baru pulang dari melaut, istri dan anak-anaknya telah menunggu di bibir pantai, mengharap akan hasil yang banyak agar lambungnya bisa terisi biji-biji nasi.

Beberapa orang nelayan menarik jala, berbaris dan kompak. sekuat tenaga mereka menarik dengan tangan-tangan yang telah legam, dengan urat-urat yang menyembul dari pangkal lengannya. Tapi itu bukanlah hambatan bagi mereka, mereka terus bersemangat. Sungguh pemandangan pagi di pantai yang mengagumkan. Pemandangan yang tidak pernah ku jumpai di bukit tempat tinggal ku dahulu.

****

Matahari mulai merangkak naik, remang-remang pagi telah di sapunya. Menandakan kalau siang ini adalah miliknya, tidak ku jumpai lagi embun yang menempel di tubuhku. Semuanya telah sirna.

Tapi siapa itu?, Pemuda dan pemudi yang mendudukiku malam tadi, mau ngapain lagi mereka?. Entah mengapa aku muak saja melihat mereka. Tapi kelihatannya mereka cuma mau manikmati pemandangan laut.

Ternyata dugaanku salah, Pemuda-pemudi itu mendekatiku, dan duduk tepat di atas ku. Yang aku bingungkan, mengapa aku yang di pilih sebagai tempat untuk mereka?.

Tapi sekarang aku ingin mendengarkan apa yang mereka omongkan, siapa tahu mereka ingin melaksanakan sunah nabi, biar hubungannya lebih halal.

Mereka telah duduk di atasku, cukup lama diam. Aku masih memperhatikanya.

“Karine, loe cinta gue kan?” si Pemuda mulai berbicara. Aku masih terus mendengarkannya.

“Kapan sih Roy, gue nggak cinta ama loe?

“Trus, ngapain loe kalau gue ajak ngelakuin yang satu itu, loe nggak mau.”

“Apa rasa cinta, harus ngelakuin itu?”

“Harus!, sebagai bukti kalau loe emang cinta gue.”

“Oke!, tapi dengan satu sarat, loe harus bertanggung jawab.”

“Itu nggak masalah.”

Astaghfirrullah, aku ber istighfar berkali-kali, dengan entengnya si Pemuda tersebut berucap, apa tidak ia pikirkan bagaimana masa depannya nanti?.

Cukup lama juga mereka berucap, tapi aku tidak ingin lagi mendengarkan celotehnya yang terlalu tinggi menggapai mimpi. Sampai mereka pergi, aku masih saja menggerutu. Sampai-sampai ke elokkan matahari sore tidak lagi terasa indah olehku.

Malam harinya aku tidur tidak nyenyak, aku masih memikirkan nasib si pemudi jika se andainya ia memenuhi permintaan dari si Pemuda yang ingin ku ludahi wajahnya itu.

****

Tiga minggu sudah aku di tinggal di pantai ini, seperti biasa aku hanya berdiam di deretan batu-batu lain yang sebaya denganku, aku tidak bisa kemana-mana karena aku hanyalah se bongkah batu yang di bawa dari sebuah bukit tempat tinggal lamaku dan di pergunakan oleh orang-orang di sini sebagai penyangga amukan ombak laut.

Semilir angin malam mengelus-elusku dengan lembut, sebenarnya angin tersebut sangat dingin, tapi tidak bagiku, tubuhku yang keras mampu menahan dinginnya malam itu.

Sedang asik-asiknya aku menikmati angin malam, tiba-tiba Pemuda dan pemudi yang sering mendudukiku datang lagi, setelah tidak pernah memperlihatkan puncak hidungnya selama tiga minggu ini, entah kemana mereka pergi. Tapi yang ku tahu sekarang aku pasti merasa bosan dan jengkel lagi kepada mereka.

Tapi kelihatannya mereka sedang bertengkar. Lihat saja si pemudi sedang menangis.

Si Pemuda telah mulai mendudukiku, tapi tidak bagi si pemudi, ia masih saja berdiam diri sambil terus mengucurkan air mata di kedua kelopak matanya. Si Pemuda tampak begitu suntuk. Tidak biasanya mereka begini. Aku terus memperhatikan mereka.

“Mana janji loe Roy?, katanya loe siap mempertanggung jawabkan semua perbuatan loe ini.”

“Tapi sekarang gue belum sanggup Karine, loe gugurin aja deh.”

Si pemudi masih terus menagis.

“Loe harus tenang Karine, gue janji, setelah gue wisuda nanti, gue akan ngomong ama ke dua orang tua gue, dan di hari itu gue siap menikahi loe.”

“Itu masih lama Roy, bagaimana dengan anak di dalam kandungan gue ini?”

“Udah gue bilang, gugurin aja!”

“Gue nggak mau ngelakuin itu, loe harus menikahi gue!”

“Kalau loe nggak mau ya udah, gue pergi.”

“Roy tunggu!”

Tapi si Pemuda tidak mau balik, tinggallah si pemudi seorang diri di kegelapan ini. Ingin rasanya aku berdiri dan mengejar Pemuda sembrono itu, tapi aku hanyalah se bongkah batu yang di bawa dari sebuah bukit tempat tinggal lamaku dan di pergunakan oleh orang-orang di sini sebagai penyangga amukan ombak laut. Aku hanya bisa diam mematung.

Si pemudi menagis dengan sejadi-jadinya. Memukul-mukul diriku dengan tangannya yang lembut. Aku membiarkan seberapa sanggup ia memukul diriku.

Tak berapa lama si pemudi berdiri menatap tajam ke laut lepas. Berlahan-lahan ia mendekati gulungan ombak, aku ingin menahannya, karena aku tahu apa yang hendak ia lakukan. Tapi aku hanyalah se bongkah batu yang di bawa dari sebuah bukit tempat tinggal lamaku dan di pergunakan oleh orang-orang di sini sebagai penyangga amukan ombak laut. Tidak mampu berbuat apa-apa.

Aku hanya memperhatikan adegan pahit itu, sampai aku tidak lagi melihat si pemudi, entah ia telah tenggelam atau masih di permainkan riak air laut.

Detik itu juga aku merindukan kampung halamanku, yang tidak akan aku temui kejadian seperti ini. Merindukan lumut-lumut yang menempel di tubuhku, merindukan curahan air dari akar-akar pohon yang dingin, merindukan ke terkekangan pandangan yang terhalang oleh dahan dan ranting-ranting pohon, merindukan kera-kera yang membuang hajatnya di atas badanku, merindukan kelengangan di hatiku.

by : Ikhsan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: